Kamis, 10 April 2014

Survivor of Bipolar Disorder Story

Sebelumnya ini sudah pernah aku tweet di account Twitter @bipolarcenterID pada 30 Maret 2014. Ini adalah cerita mengenai salah satu #survivor kami di group +BipolarSupport CenterID . Sehubungan dari privacy daripada survivor tersebut, maka nama akan dirahasiakan. Kurang lebih beginilah cerita mengenai salah satu survivor yang telah berhasil mendapatkan "Silver Lining"nya. Inilah cerita yang kudapatkan darinya tentang kehidupannya yang sudah didiagnosa sebagai penderita Bipolar Disorder sejak 9 tahun yang lalu.


" Sejak kecil, aku tinggal dengan kakek dan nenek dari pihak ibuku, mama, papa dan adik perempuanku. Karena papa dan mama bekerja, aku dan adikku sering banget sama-sama kakek dan nenek. Kakek dan nenek aku termasuk pasangan yang abusive. Saling pukul, tampar, lempar, tendang. Bahkan itu dilakukan didepan aku. Sejak saat itu aku trauma sekali. Sampai setiap mendengar bentakan atau melihat papa dan mama bertengkar, aku menangis histeris. 

Trauma masa kecilku ini membuatku menjadi orang yang defensive dalam menjalani hubungan. Baik hubungan pertemanan ataupun asmara. Setiap kali aku ada masalah dengan orangtua,teman ataupun pacar, aku relapse. Aku menyakiti diri sendiri dengan menyilet, menangis-nangis, tidak keluar kamar, tidak makan dan minum selama berhari-hari. Bahkan terkadang aku menggunakan "cara kotor" untuk menghindari perselisihan, agar aku tidak relapse. Mulai dari having sex, mengeluarkan uang banyak untuk mentraktir dan membelikan barang-barang mahal untuk teman-temanku, menuruti orangtua walaupun bertentangan dengan hati dan logikaku. Semua hanya demi mereka melihat aku dan suka sama aku. Aku takut dibenci. Aku takut kehilangan kasih sayang. Aku haus perhatian. 

Yang paling parah adalah saat aku putus dengan pacarku 2 bulan yang lalu. Aku merasa dia membenciku. Aku merasa dia menyalahkan keadaanku sebagai penderita Bipolar Disorder. Aku menyilet tanganku, aku collapse, dan masuk Rumah Sakit. Depresi selama satu bulan setengah. Skripsi kacau. Papa dan adikku pun menangis karena tahu aku begitu.

Sampai akhirnya bulan Februari kemarin menjadi "turning point" aku. Banyak teman-teman yang menyemangatiku. Dan sahabat-sahabatku berkata kepadaku "Jangan kamu sakiti diri kamu sendiri karena orang yang tidak menyayangimu. Ketika kamu tulus, ikhlas dan tidak selalu berusaha membuat orang lain senang, kamu akan lebih bahagia daripada ini. You could do even better than this. You're such a nice loving girl, banyak kelebihan di dirimu. Jangan jadikan Bipolar penghalangmu untuk berhubungan dengan orang lain".

Setelah itu, setelah kejadian diluar logika, dan aku tahu bahwa Tuhan membenci itu, mood dan emosiku mulai stabil sampai sekarang. Sekarang aku mengalihkan pikiranku dengan melakukan kegiatan yang kusukai seperti memasak, bernyanyi, menggambar, berolahraga, dan selalu berpikir positif. Aku bahkan selalu memberi reward untuk diriku sendiri setiap kali aku berhasil mengontrol emosiku. Entah itu dengan bercermin dan memuji diriku sendiri ataupun dengan makan makanan kesukaanku. Dan sekarang aku tidak memaksakan diriku untuk selalu disenangi oleh orang lain. Karena aku berpikir, menyakiti dan disakiti oleh pasangan ataupun teman, sudah menjadi hukum alam. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyayangi diri kita sendiri dulu, maka orang lain akan menyayangi kita

Sekarang, ketika aku bertemu dengan orang-orang yang pernah menyakitiku, bahkan mantanku, aku bisa tersenyum dengan tulus. Sampai mantanku kaget bagaimana aku bisa se-positif ini. Dan sekarang banyak cowok yang mengutarakan rasa suka dan simpatinya ke aku. Effortless, dengan aku menunjukkan kepercayaan diri tanpa berpura-pura bahagia dan memaksakan senyumanku, banyak yang mendekatiku. Bahkan sekarang aku punya banyak teman. 

Sekarang aku clean tanpa obat dan I'm proud of myself. Saranku, jangan terlalu mencintai orang lain melebihi cinta kita kepada Tuhan, Orangtua dan guru kita. Apa yang kita puja belum tentu sebaik yang kita pikir kan? Trick self-reward aku dapatkan dari salah satu sahabatku. Setiap kali dia merasa bosan, dia membeli ice cream. Dan aku menirunya. Setiap kali aku merasa bosan, aku ke gym, setelah itu aku makan sayur kesukaanku. Kalau aku sedang dalam fase manic, aku tidak bisa diam. Pasti aku alihkan dengan mengerjakan skripsi atau membuat review band/lagu/album kesukaanku.

Dan dengan keadaan seperti ini, aku berharap mamaku yang juga penderita Bipolar Disorder bisa menjadi lebih positif dan tabah dalam menghadapi masalahnya. Karena beliau sama sepertiku. Skeptis dengan hubungan sosial. Bahkan sering meminta diceraikan oleh papa. Tapi aku berkata kepadanya : "Kami sekeluarga sayang mama, walaupun mama melakukan kesalahan yang membuat kami harus berjuang sekeras ini". 

Endingnya, aku sekarang bisa mengontrol mood-ku karena kekuatan dari diriku dan dengan dibantu oleh orang-orang yang menyayangiku. Sekarang aku juga tidak mau terlalu memikirkan apa kata orang. Aku memperbanyak melakukan kegiatan yang aku sukai dan berteman dengan orang-orang yang supportif dan positif."


Itulah kurang lebih kisah manis dari salah satu #SurvivorBipolarDisorder di group kami. Bagi aku sendiri sebagai admin yang mengawasi anggota-anggota group kami dan menampung keluh kesah mereka, bagiku ia menunjukan progress yang sangat baik terlebih di usianya yang bisa dikatakan masih muda, cara berpikirnya cukup dewasa. Saat baru bergabung dengan group kami, sangat terlihat betapa rapuhnya. Tapi kini, dia menjadi salah satu yang berhasil memberi motivasi kepada kami. 

Semoga saja kisah dari salah satu #Survivor ini dapat menjadi inspirasi bagi para #Survivor lainnya diluar sana. 

Terima kasih telah membaca cerita ini. 
Let's #BreakTheStigma, Keep #FightingDepression , be positive and remember, you're never alone, Survivor. :)

0 komentar:

Posting Komentar