Caregiver-ku tidak lain dan tidak bukan adalah pacarku sendiri. Aku berpacaran dengan pacarku ini hampir 2 tahun. Awalnya dia sangat mengerti aku. Dia selalu berusaha untuk membuat aku senang saat aku stres dan depresi dengan segala macam cara. Dari mulai mengajak pergi sampai membelikan apapun yang dia pikir bisa membuat aku tenang baik itu makanan ataupun barang. Apapun yang penting aku seneng. Dia selalu bilang bahwa dia ingin melihat aku jadi orang yang kuat dan tidak gampang menyerah. Dia ingin melihat aku bahagia. Dia sangat sabar menghadapi sikapku yang temperamen hampir setiap saat. Hal-hal kecil pun bisa membuat aku marah dan kesal. Pemakaian bahasa yg salah saja bisa membuat aku marah.
Keadaan keluarga yang kurang bisa mengerti aku pun membuat aku gampang emosi dan bertengkar dengan mamaku. Emosiku sangat mudah tersulut. Dan dengan tersulutnya emosiku, otomatis aku melampiaskan semuanya ke pacarku yang juga adalah caregiverku ini. Aku selalu ingin dia menjadi apa yang aku inginkan. Aku mau dia selalu mengerti semua yang aku mau dan menuruti semua yang aku mau. Aku mau dia berubah sesuai keinginanku. Pokoknya semua yang aku pikir baik untuk dia. Contohnya, dia pelupa, aku mau dia tidak jadi pelupa lagi. Aku mau dia selalu ingat apa yang menurutku harus untuk diingat.
Awalnya dia sangat sabar dan terus berusaha untuk jadi yang terbaik untuk aku. Tapi, tetap saja, satu kesalahan kecil bisa membuat aku marah. Bagi aku pribadi, aku berpikiran bahwa aku ingin dia menjadi caregiver yang sempurna. Tapi sayangnya, setelah sekian lama, mungkin karena dia terlalu lelah dengan tekanan yang kuberikan padanya setiap kali aku relapse, dia mulai kehilangan kesabaran dalam menghadapiku. Dia jadi mudah meledak dan kadang seperti orang yang tidak sadar apa yang dilakukannya. Pernah satu kali saat kami sedang di perjalanan dengan menggunakan motor, kami bertengkar dan akhirnya dia meledak. Saat itu, dia berteriak dan memukul spidometer motornya sampai spidometernya rusak parah. Motor berjalan dengan tidak terkendali ditengah keramaian jalanan. Untungnya kami tidak sampai terjatuh dari motor. Saat itu mau tidak mau aku harus menenangkan diriku sendiri karena kulihat dia lebih relapse daripada aku. Kami pun berhenti di pinggir jalan. Aku harus menenangkan dia yang terlihat sangat lemas dan sakit kepala. Jalanan cukup ramai dan banyak yang memperhatikan.
Cukup lama setelah kejadian itu pun, sempat terjadi hal-hal yang hampir sama. Dia menjadi orang yang sangat temperamental dan "explosive". Aku pun lama kelamaan menyadari bahwa semua ini bukan karena apa, akan tetapi karena tekanan yang kuberikan padanya setiap kali aku relapse.
Dengan semua yang kuharapkan dari dia, aku bukan menjadikan dia seseorang yang lebih baik dan lebih mengerti aku, tapi karena keinginanku untuk merubah dia, aku malah menjadikannya "monster".
Disaat itulah aku harus menyadari bahwa, manusia tetaplah manusia. Caregiver pun hanyalah seorang manusia biasa yang bisa kehilangan kesabaran. Pacar aku pun berkata bahwa dia suka kebingungan setiap kali dia harus menghadapiku yang sedang marah dan emosi, karena dia sendiri sekarang susah mengontrol emosinya. Dia juga bingung karena dia terus berusaha untuk mengerti aku, mendengar segala macam keluhanku dan menjadi sasaran pelampiasan emosiku. Sementara dia sendiri juga membutuhkan teman yang bisa menjadi tempatnya untuk bercerita. Lagi-lagi aku sadar, bahwa kenyataannya, bukan hanya aku yang ingin didengarkan. Caregiver aku ini pun membutuhkan teman yang bisa membantunya dan mendengarkan keluh kesahnya.
Dari semua yang telah aku dan dia lalui, sampai hari ini dia masih bertahan menjadi seorang caregiver yang baik untukku dan selalu ada untukku saat dia bisa. Dan aku juga terus belajar, bahwa Caregiver hanyalah seorang manusia biasa. Bukan malaikat. Bukan seseorang yang bisa selalu ada untuk kita 100%. Bukan juga seseorang yang kuat untuk terus mendengarkan tanpa didengar. Mereka bisa kehilangan kesabaran. Mereka juga membutuhkan teman yang bisa mengerti mereka. Kita tidak bisa mengharapkan caregiver kita ataupun orang lain disekitar kita, untuk selalu ada setiap saat dan untuk selalu mengerti kita. Mereka pun membutuhkan waktu untuk mengurus urusan mereka sendiri. Mereka juga butuh waktu untuk diri mereka sendiri.
Kurang lebih itulah ceritaku tentang aku dan caregiverku. Terima kasih sudah membaca.
*telah di kultwit di @bipolarcenterID pada Sabtu 5 April 2014 by me*
0 komentar:
Posting Komentar