Rabu, 06 November 2013

"Setelah 15 Tahun" - Review


Dear blogger friends..


Beberapa hari yang lalu, tepatnya Kamis, 31 Oktober 2013, gw bertemu dengan Bang Tino Saroengallo di Sevel sektor 1, Bintaro. Sebelumnya gw pengen sedikit share mengenai Bang Tino.




Tino Saroengallo, kelahiran Jakarta, 10 Juli 1958. Pada tahun 1986 menamatkan pendidikannya di Universitas Indonesia  Fakultas Sastra Jurusan Studi Sastra China. Beliau pernah menjadi seorang reporter di beberapa media cetak. Sampai dengan saat ini, beliau telah banyak terlibat dengan ratusan produksi film baik nasional maupun internasional.

Di dunia film cerita, beliau banyak berkecimpung di departemen produksi sebagai manajer produksi, manajer lokasi maupun pemain. Film yang ia kerjakan sebagai bagian dalam departemen produksi adalah:

  • "Victory" (Mark People, 1995)
  • "Last to Surrender" (David Mitchell, 1999)
  • "Pasir Berbisik" (Nan T. Achnas, 2001)
  • "Ca Bau Kan" (Nia Dinata, 2002)
  • "The Fall" (Tarsem Singh, 2006)
  • "Jermal" (Ravi L. Bharwani, Rayya Makarim, Orlow Seunke, 2008)
  • "Eat, Pray, Love" (Ryan Murphy, 2010)
  • "Sang Penari" (Ifa Isfansyah, 2012)
  • "The Philosopher" (John Huddles, 2012)
  • "Cyber" (Michael Mann, 2014)

Sebagai pemain film, beliau pernah tampil sebagai figuran, cameo maupun pemeran pendukung dalam film:

  • "Petualangan Sherina" (Riri Riza, 2000)
  • "Arisan" (Nia Dinata, 2003)
  • "Pesan dari Surga" (Sekar Ayu Asmara, 2006)
  • "Dunia Mereka" (Lasya Fauzia, 2006)
  • "Quickie Express" (Dimas Djayadiningrat, 2007)
  • "Tri Mas Getir" (Rako Prijanto, 2008)
  • "MBA" (Winalda, 2008)
  • "Jagad X-Code" (Herwin Novianto, 2009)
  • "Pintu Terlarang" (Joko Anwar, 2009)
  • "Kabayan jadi Milyuner" (Guntur Soeharjanto, 2010)
  • "Rayya : Cahaya di atas Cahaya" (Viva Westi. 2012 )
  • “Ketika Bung di Ende” (Viva Westi, post production)

Di dunia Film Dokumenter, beliau pernah memproduksi film dokumenter sejarah politik Indonesia berjudul "Student Movement in Indonesia : They Force Them to be Violent". Yang berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik dalam Asia Pasific Film Festival ke-47 yang diadakan di Seoul pada Oktober 2002 dan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Indonesia di Jakarta pada tahun 2004.

Selain itu, beliau juga menerbitkan dua buku hasil karyanya yaitu "Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat" dan "Dongeng Sebuah Produksi Film: Dari Sudut Pandang Manajer Produksi" yang terbit pada tahun 2008. Dan keduanya diterbitkan ulang pada tahun 2011.

Pada akhir November 2011, beliau merilis Film Dokumenter tentang upacara pemakaman di Tana Toraja yang berjudul "Hidup untuk Mati" ( They Lived to Die) yang adalah hasil kerjasamanya dengan Sutradara senior, Gary Hayes.

Terkait dengan Peringatan 15 Tahun Reformasi pada 21 Mei 2013, ia merilis Film Dokumenternya berjudul "Setelah 15 Tahun" (After 15 Years )yang bisa dibilang merupakan sekuel dari "Student Movement in Indonesia: They Forced Them to be Violent".


Film inilah yang menjadi cikal bakal pertemuan gw dengan Bang Tino. Harus gw akui, gw bangga banget bisa punya kesempatan bisa berkenalan dengan Bang Tino dan akhirnya bertemu dengan beliau. Awalnya gw ragu apakah gw bisa langsung bertemu dengan seorang yang terkenal seperti Bang Tino. Karena...yaaa dia kan produser, penulis dan juga seorang artis, gw pikir kan sombong gitu. Nyatanya gw salah 100%. Orangnya baik, santai, friendly dan kritis dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan gw.




Sekarang gw mau cerita sedikit dulu tentang bagaimana gw bisa nonton Film "Setelah 15 Tahun" yang sempet tayang di beberapa bioskop di Jakarta dan di Indonesia. Saat gw tau film ini tayang di bioskop, gw pengen banget nonton. Karena film ini gw pikir bisa menjawab betapa penasarannya gw akan apa yang terjadi jelas saat Tragedi tahun 1998 yang pastinya gak pernah gw lihat langsung karena saat itu gw masih duduk di bangku SD. Tapi sayangnya saat gw mau nonton, kebetulan kantong gw lagi cekak. hehehehehehehe.

Gak lama setelah itu, gw yang merupakan followers @QFilmFestival , ngeliat adanya screening film "Setelah 15 Tahun" pada tanggal 05 Oktober 2013 di kantor KontraS yang ada di daerah Jakarta Pusat. Gw yang hari itu kebetulan ada planning untuk mengikuti Workshop Tulis Nusantara di Taman Ismail Marzuki, langsung ngecek jam tayangnya yang kebetulan jam 19.00 dan itu berarti 1 jam setelah mengikuti workshop. Tanpa membuang banyak waktu, setelah mengikuti workshop, gw langsung meluncur ke KontraS. Dan gw pun baru tau kalo ternyata nontonnya gratiiiiiiiiis. *cihuuuuuy.

Bagi gw, film ini sendiri memang mengangkat mengenai bagaimana kelanjutan dunia pemerintahan di Indonesia semenjak Tragedi 1998, dimana mahasiswa-mahasiswa se-Indonesia bersatu padu berusaha mengulingkan kekuasaan Presiden Indonesia yang telah berkuasa selama 32 tahun sebagai Presiden ke-2 Indonesia, yaitu Bpk. Presiden Soeharto (sekarang : Alm. Mantan Presiden Soeharto). Film ini berisi cuplikan-cuplikan video dari tragedi - tragedi yang terjadi pada masa itu. Terdapat juga wawancara dengan beberapa orang responden dari berbagai elemen masyarakat Indonesia dari mulai politisi, karyawan swasta, dosen, pustakawan, seniman theater, dll. Dan sisi uniknya yang membuat gw agak bertanya-tanya adalah sang narator film itu... Tora Sudiro. Di film ini sendiri gw banyak mendengar mengenai kegagalan reformasi itu sendiri.

Setelah selesai pemutaran film, ada sesi tanya jawab dengan (harusnya) Bang Tino. Sayangnya, malam itu Bang Tino berhalangan untuk hadir dan diwakilkan oleh sang editor film tersebut. Pada sesi tanya jawab itulah gw mendapatkan kesempatan untuk mengangkat tangan gw saat sang editor menanyakan mengenai siapa yang memiliki blog. Inilah awal mula dari semuanya.


Berawal dari nonton di KontraS, diminta untuk membantu mengingatkan Rakyat Indonesia dengan menuliskan ini di blog, nyari contact Bang Tino, dan akhirnya berhasil ketemu dengan Bang Tino.




Awalnya, gw berkomunikasi dengan beliau melalui twitternya @jamedsy . Berlanjut ke DM Twitter. Sebelum pertemuan itu sendiri, gw sempet menanyakan beberapa hal kepada beliau melalui DM Twitter. Kurang lebih seperti berikut ini :


AngsaBawel (AB) : Halo Bang Tino, aku bermaksud untuk menulis mengenai "Setelah 15 Tahun di blog aku. Aku mau menanyakan beberapa hal #1 Kenapa memilih untuk menayangkan di QFF?

Bang Tino (BT) : Mereka juga punya kategori yang terkait dengan HAM. Film ini sendiri isinya mengingat sejarah masa lampau. Mau normal, waria, gay, lesbian, womanizer, manizer, boleh nonton. Bermanfaat.

AB : Oh ok. #2 Apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan Bang Tino dengan Film ini?

BT : Pesannya sangat sederhana, mengingatkan kembali masyarakat tentang reformasi 1998, kilas balik sekaligus evaluasi kondisi saat ini.

AB : #3 Kenapa pemilihan kilas balik itu diambil setelah 15 tahun, Bang? Apa ada sesuatu yang mirip antara sekarang dengan 98? Atau hanya sekedar judul?

BT : Berawal dari keinginan rilis ulang Film "Student Movement in Indonesia" (edar 2002), setelah wawancara beberapa orang terus kepikiran "kenapa gak buat baru aja?" kebetulan pas 15 tahun. Waktu 10 tahun dulu kan ada yang dibuat Prima Rusdi dkk. Tapi memang terkait dengan Peringatan 15 Tahun Reformasi 1998.

AB : Lalu, #4 Apakah yang menjadi latar belakang Bang Tino membuat Film-film bertemakan Tragedi 98 seperti "Student Movement" dan "Setelah 15 Tahun"?

BT : Selama 32 tahun, saya mendengar claim-claim kepahlawanan 1945 dan 1966. Kenapa tidak merekam peristiwa bersejarah seperti 1998? Kenapa tidak membuat Film Dokumenter sejarah yang terjadi didepan mata? Paling tidak ada sesuatu yang bisa ditonton generasi yang akan datang.

AB : #5 Sepengetahuan Bang Tino sendiri, kira-kira apa efek yang didapat dari film tersebut?

BT : Setahu saya film "Student Movement in Indonesia", cukup banyak di apresiasi di kalangan akademik, termasuk Universitas di luar negeri yang punya jurusan Asia Tenggara atau Indonesia. Mudah-mudahan "Setelah 15 Tahun" juga akan mendapatkan apresiasi yang sama atau mendekati.

AB : #6 Saya pribadi kebetulan sudah menonton Filmnya (Setelah 15 Tahun), Bang. Selama pembuatan film itu, apakah Bang Tino mendapat tekanan dari pihak-pihak yang mungkin terlibat?

BT : Jujur, mungkin terdengar aneh, Tidak ada. Pernah ada yang datang bertanya, saya jelaskan apa adanya saja. Itu malah sebelum film diedit. Bahkan pengurusan STLS di LSF selesai dalam waktu 1 hari.

AB : Kapan-kapan boleh gak aku ketemu Bang Tino untuk tanya-tanya langsung? #7 Latar belakang Bang Tino memilih orang-orang yang di wawancarai di film tersebut apa?

BT : Saya akan ada di PPHUI Selasa 29 Okt depan, acara nonton Tjoet Nja' Dhien. Pemilihan responden berangkat dari latar belakang mereka sebagai mantan aktivis 1998. Khusus untuk Makassar, aktivis mahasiswa UnHas saat ini.


Itulah akhir dari perbincangan gw di Twitter dengan sang pemeran banci dalam film Quickie Express itu. Sempet pengen ketemu langsung untuk menanyakan mengenai beberapa hal pada hari Selasa, 29 Oktober 2013 di PPHUI. Akan tetapi, karena hujan dan banyaknya kendala terkait dengan diri gw sendiri, akhirnya batal. Malam itu juga gw mencari contact person Bang Tino yang akhirnya berhasil gw dapatkan dari internet. Dari situ gw mulai berkomunikasi dengan beliau melalui whatsapp. Lagi-lagi ada rencana pertemuan tanggal 30, tapi sayangnya kembali batal karena kemaleman. Sebenernya saat batal itu gw sempet hopeless. Tapi ternyata beruntungnya gw yang akhirnya bisa juga bertemu dengan Bang Tino pada tanggal 31 Oktober.

Sebenarnya, gw menyiapkan beberapa hal untuk gw tanya. Tapi, karena keasikan ngobrol akhirnya gak semua pertanyaan itu berhasil gw tanyakan. Beginilah kurang lebih hasil wawancara gw dengan Bang Tino malam itu:


AB : Dalam film tersebut, ada sisi menonjol mengenai kegagalan dari aksi mahasiswa dalam aksinya pada tahun 1998. Menurut Bang Tino, seperti apakah kegagalan itu?

BT : Kegagalan mahasiswa pada tahun 1998 adalah para mahasiswa berhasil menurunkan presiden Soeharto, tetapi antek-anteknya masih tersisa di Pemerintahan.

AB : Bagaimana Bang Tino bisa mendapatkan video footage yang terkait dengan tragedi 1998?

BT :  Kebanyakkan saya punya sendiri, saya kan di jalanan tahun 1998.

AB :  Oh jadi memang itu shoot sendiri pas kejadian?

BT :  Kalau pernah lihat "Student Movement", 80% itu saya sendiri.

AB :  Jadi dokumentasi pribadi semua, bang?

BT : Gak semua. Kalau kaya Gejayan ada teman yang punya yang selama 15 tahun gak pernah dilihat orang. Karena ketika kejadian masih Orde Baru dan gak bisa tayang.

AB :  Banyak kendala juga ya kalau mau ditayangin juga?

BT : Waktu jaman Orde Baru mah dilarang. Malah footage yang dibuat TVRI hilang. TVRI Jogja kan juga bikin, hilang. Hilang aja. Dengan besar hati kita nyatakan hilang. Hampir semua footage 98 sudah hilang dari stasiun TV. Karena secara gambar sesuatu yang gakk bisa ditolak, bahwa pada waktu itu TNI yaaa.. hajar rakyat sendiri, gitu aja. Rakyat kecil ya.

AB : Itu aku sempet lihat di film yang saat para TNI nari-nari. Itu mereka beneran nari-nari setelah itu gitu..?

BT : Iya, bener. Ya iya. Artinya belum pernah lihat "Student Movement". Karena waktu 98, semua gambar yang di film Student Movement sudah muncul sebelumnya di media, kecuali yang itu. Ketika itu masuk di "Setelah 15 Tahun" ya itu yang gak dipotong karena mereka gak sadar.

AB : Aku agak penasaran, Bang. Apa ada alasan tersendiri yang membuat Bang Tino memilih Tora Sudiro untuk menjadi Narator dalam film ini..?

BT : Orang gak akan nyangka aja bahwa akan ada dia. Karena orang kan nganggep dia kan becanda, komedi. Justru itu kan bagian dari, kalau kamu lihat, kemajemukan orang Indonesia. Ada wartawan, ada rohanian, ada macam-macam. Pembawa acaranya komedian, tapi siapa bilang kayak pertanyaan kamu, “kenapa diputar di Qfestival?”, emangnya seorang lesbian, seorang gay atau seorang waria gak boleh tau kalau negara ini hancur gara-gara birokrasi? Gak dong. Sama aja seorang komedian pasti punya pendapat juga. Dan juga untuk lebih cair ya. Kalau kita bawa yang lebih serius, lebih ancur lagi itu film, lebih dimusuhin. Dengan adanya Tora, kan jadi kesannya lebih... agak santai.

AB : Bener... Bener... Biar gak kaku juga. Kalau mengenai pemilihan responden.. Apakah mereka mayoritas terlibat pada Tragedi 1998?

BT : Semuanya, kecuali yang anak muda, yang lainnya semua mantan aktivis dan hardcore, Cuma kamu gak tau aja. Mereka di belakang semua. Dan kalau yang nonton adalah aktivis, itu ngantuk dia. Karena yang nongol itu hardcore semua. Dulunya itu musuh republik. Musuh no.1’nya Soeharto semua. Jadi itu gak bohong itu yang bilang: “Gw tetap optimis, sama ketika optimis gw jatohin Soeharto”. Itu bener itu. Mereka gila. Mereka orang-orang yang dikejar-kejar semua. Sampai 2003, yang giginya berantakan tuh, masih dikejar-kejar.

AB : Bang, apakah saat ini masih ada sisa rezim Soeharto?

BT : Masih. Ini Orde Baru. Yang hilang Cuma Soeharto doang kok. Yang aman justru mereka dengan dijejelin ini itu, yang korupsi di zaman Soeharto sudah aman, karena dikasih koruptor baru semua.

AB : Film ini sendiri mendapat banyak respon negatif? Tapi, ada yang pro juga kan?

BT : Terutama sih banyak yang pada bilang, kenapa gw berpihak. Tapi kalau buat dokumenter, gw berpihak. Justru diluar dugaan, reaksinya gak sekeras “Student Movement”. Kalau “Student Movement” itu jelas bahwa mereka marah. Kalau yang ini, mereka lebih objektif, gak jadi emosional. Tapi yang mereka gak sangka itu, sebetulnya mereka udah tau semua. Nah di film ini bukan sesuatu yang baru. Cuma diingatkan saja.

AB : Oh iya, denger-denger, Bang Tino mencari orang yang kepalanya di tendang di awal film ya, Bang ?




BT : Udah dicari, tapi belum ketemu. Gak ada yang mau buka.

AB : Apa sih yang membuat Bang Tino tertarik untuk membuat film yang bertemakan pergerakan mahasiswa kaya “Student Movement” dan “Setelah 15 Tahun” ?

BT : Saya gak tertarik. Saya gelisah. Gelisah kenapa gak ada yang buat. Itu aja. Gak enak juga kali udah ngabisin duit sendiri, dimusuhin lagi. Dalam prakteknya kenyataannya begitu. Duit, duit saya. Begitu terbit dimusuhin. Jadi gak ada enak-enaknya.

AB : Tapi ada kepuasan batin aja ya, Bang ?

BT : Puas juga gak. Cuma bisa tidur gak gelisah aja.

AB : Apa ada film atau hal yang menginspirasi Bang Tino untuk membuat film ini ?

BT : Gak ada. Cuma gara-gara saya gedek aja 32 tahun dibohongin. Tiap kali ketemu orang “Gw angkatan 45.. Gw angkatan 45..”. Tai kucing. Emang kalo gw hidup jaman lo, gw kalah sama lo.

AB : Hahahahahaha. Lalu apa bener ada planning untuk membuat lanjutan dari “Setelah 15 Tahun” ?

BT : “Setelah 25 Tahun”. Tapi mungkin gw udah mati. Gw udah umumin, karena yang denger gw ngomong itu semua masih muda. Gw bilang, kalau gw mati, lo yang gantiin gw. Karena film ini kan yang buat dari generasi saya sampai generasi 20’an kaya Avo. Hehehe. “Pesta Perak Reformasi”.

AB : Karena menonton film ini, aku jadi agak bertanya-tanya. Apakah Bang Tino sendiri itu seorang aktivis atau bukan?

BT : Di kampus, gw gak pernah jadi aktivis. Paling benci gw sama aktivis. Ngerepotin orang. Sampai sekarang juga gw bukan aktivis. Gw gak pernah jadi aktivis, tapi gw adalah pencaci maki yang baik.



Setelah menyelesaikan kalimat itu, Bang Tino pun pamit untuk pulang karena waktu juga udah menunjukkan Pk. 22.00. Sebelum pulang, pastinya gw minta ijin photo berdua dulu dengan beliau. Hehehehehehe.

Bagi gw pribadi, Film “Setelah 15 Tahun” ini recommended banget untuk ditonton. Karena pentingnya kita untuk melihat usaha keras bagaimana para mahasiswa di seluruh Indonesia, bersatu padu menggabungkan kekuatannya untuk menjatuhkan musuh bersama, yaitu Soeharto. Hanya saja, kita juga harus melihat bahwa kenyataannya saat itu terjadi kegagalan karena para mahasiswa tidak menyiapkan backup plan untuk setelah lengsernya Soeharto. Dan saat ini, setelah 15 tahun reformasi, Indonesia masih saja tetap sama seperti dulu. Ada beberapa perubahan yang terjadi, hanya sayangnya, ya masih juga banyak yang tidak berubah malah yang ada semakin parah. Ironisnya pada saat ini banyak juga demo-demo yang terjadi karena provokasi dan dengan dibayar. Bang Tino juga sempat mengungkapkan : “Saya tidak tahu nasib film ini tahun depan atau nasib saya sendiri tahun depan, kalau para pembunuh itu yang menang”. Ya mungkin kali ini dengan memuat tentang ini di blog kesayangan gw ini pun, gw juga gak tau nasib gw ke depannya. Tapi, gw pun MENOLAK LUPA!!! segala sesuatu yang pernah terjadi dalam pemerintahan Indonesia yang sampai dengan saat ini belum terselesaikan bahkan seperti dilupakan begitu saja. MENOLAK LUPA!!! Komitmen reformasi 15 tahun yang lalu. Jangan sampai generasi yang akan datang melupakan semangat reformasi yang telah ada sejak jaman dulu.

Benar gagalkah Generasi Reformasi 98 di 68 tahun kemerdekaan Indonesia ini? Benar gagalkah Generasi Reformasi 98 di 7 hari menjelang Peringatan 15 Tahun Tragedi Semanggi I ? Meski Indonesia terkesan dalam kukungan kegelapan, secercah cahaya tetaplah bersinar. INDONESIA NAN RAYA!

Terima kasih untuk Karyamu Bang Tino yang mengingatkan mengenai segala sesuatu yang mulai terlupakan oleh Generasi Muda Indonesia.



Referensi :



0 komentar:

Posting Komentar