Dear blogger friends..
Beberapa hari yang lalu, tepatnya Kamis, 31 Oktober 2013, gw
bertemu dengan Bang Tino Saroengallo di Sevel sektor 1, Bintaro. Sebelumnya gw
pengen sedikit share mengenai Bang Tino.
Tino Saroengallo, kelahiran Jakarta, 10 Juli 1958. Pada tahun 1986
menamatkan pendidikannya di Universitas Indonesia Fakultas Sastra Jurusan
Studi Sastra China. Beliau pernah menjadi seorang reporter di beberapa media
cetak. Sampai dengan saat ini, beliau telah banyak terlibat dengan ratusan
produksi film baik nasional maupun internasional.
Di dunia film cerita, beliau banyak berkecimpung di departemen
produksi sebagai manajer produksi, manajer lokasi maupun pemain. Film yang ia
kerjakan sebagai bagian dalam departemen produksi adalah:
- "Victory"
(Mark People, 1995)
- "Last to
Surrender" (David Mitchell, 1999)
- "Pasir Berbisik"
(Nan T. Achnas, 2001)
- "Ca Bau
Kan" (Nia Dinata, 2002)
- "The
Fall" (Tarsem Singh, 2006)
- "Jermal"
(Ravi L. Bharwani, Rayya Makarim, Orlow Seunke, 2008)
- "Eat, Pray,
Love" (Ryan Murphy, 2010)
- "Sang
Penari" (Ifa Isfansyah, 2012)
- "The Philosopher"
(John Huddles, 2012)
- "Cyber"
(Michael Mann, 2014)
Sebagai pemain film, beliau pernah tampil sebagai figuran, cameo maupun pemeran pendukung dalam film:
- "Petualangan
Sherina" (Riri Riza, 2000)
- "Arisan"
(Nia Dinata, 2003)
- "Pesan dari
Surga" (Sekar Ayu Asmara, 2006)
- "Dunia
Mereka" (Lasya Fauzia, 2006)
- "Quickie
Express" (Dimas Djayadiningrat, 2007)
- "Tri Mas
Getir" (Rako Prijanto, 2008)
- "MBA"
(Winalda, 2008)
- "Jagad
X-Code" (Herwin Novianto, 2009)
- "Pintu
Terlarang" (Joko Anwar, 2009)
- "Kabayan
jadi Milyuner" (Guntur Soeharjanto, 2010)
- "Rayya :
Cahaya di atas Cahaya" (Viva Westi. 2012 )
- “Ketika Bung di
Ende” (Viva Westi, post production)
Di dunia Film Dokumenter, beliau pernah memproduksi film
dokumenter sejarah politik Indonesia berjudul "Student Movement in Indonesia :
They Force Them to be Violent". Yang berhasil mendapatkan
penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik
dalam Asia Pasific Film Festival
ke-47 yang diadakan di Seoul pada Oktober 2002 dan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Indonesia di Jakarta pada
tahun 2004.
Selain itu, beliau juga menerbitkan dua buku hasil karyanya yaitu
"Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja
Kota Menggugat" dan "Dongeng
Sebuah Produksi Film: Dari Sudut Pandang Manajer Produksi" yang terbit
pada tahun 2008. Dan keduanya diterbitkan ulang pada tahun 2011.
Pada akhir November 2011, beliau merilis Film Dokumenter tentang
upacara pemakaman di Tana Toraja yang berjudul "Hidup untuk Mati" ( They Lived to Die) yang adalah hasil
kerjasamanya dengan Sutradara senior, Gary Hayes.
Terkait dengan Peringatan
15 Tahun Reformasi pada 21 Mei 2013, ia merilis Film Dokumenternya berjudul
"Setelah 15 Tahun" (After
15 Years )yang bisa dibilang merupakan sekuel dari "Student
Movement in Indonesia: They Forced Them to be Violent".
Film inilah yang menjadi cikal bakal pertemuan gw dengan Bang
Tino. Harus gw akui, gw bangga banget bisa punya kesempatan bisa berkenalan
dengan Bang Tino dan akhirnya bertemu dengan beliau. Awalnya gw ragu apakah gw
bisa langsung bertemu dengan seorang yang terkenal seperti Bang Tino. Karena...yaaa
dia kan produser, penulis dan juga seorang artis, gw pikir kan sombong gitu.
Nyatanya gw salah 100%. Orangnya baik, santai, friendly dan kritis dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan gw.
Sekarang gw mau cerita sedikit dulu tentang bagaimana gw bisa
nonton Film "Setelah 15 Tahun" yang sempet tayang di beberapa bioskop
di Jakarta dan di Indonesia. Saat gw tau film ini tayang di bioskop, gw pengen
banget nonton. Karena film ini gw pikir bisa menjawab betapa penasarannya gw
akan apa yang terjadi jelas saat Tragedi tahun 1998 yang pastinya gak pernah gw
lihat langsung karena saat itu gw masih duduk di bangku SD. Tapi sayangnya saat
gw mau nonton, kebetulan kantong gw lagi cekak. hehehehehehehe.
Gak lama setelah itu, gw yang merupakan followers @QFilmFestival
, ngeliat adanya screening film
"Setelah 15 Tahun" pada tanggal 05 Oktober 2013 di kantor KontraS yang ada di daerah Jakarta
Pusat. Gw yang hari itu kebetulan ada planning
untuk mengikuti Workshop Tulis Nusantara
di Taman Ismail Marzuki, langsung ngecek jam tayangnya yang kebetulan jam 19.00
dan itu berarti 1 jam setelah mengikuti workshop.
Tanpa membuang banyak waktu, setelah mengikuti workshop, gw langsung meluncur ke KontraS. Dan gw pun baru tau kalo
ternyata nontonnya gratiiiiiiiiis. *cihuuuuuy.
Bagi gw, film ini sendiri memang mengangkat mengenai bagaimana
kelanjutan dunia pemerintahan di Indonesia semenjak Tragedi 1998, dimana
mahasiswa-mahasiswa se-Indonesia bersatu padu berusaha mengulingkan kekuasaan
Presiden Indonesia yang telah berkuasa selama 32 tahun sebagai Presiden ke-2
Indonesia, yaitu Bpk. Presiden Soeharto (sekarang : Alm. Mantan Presiden
Soeharto). Film ini berisi cuplikan-cuplikan video dari tragedi - tragedi yang
terjadi pada masa itu. Terdapat juga wawancara dengan beberapa orang responden
dari berbagai elemen masyarakat Indonesia dari mulai politisi, karyawan swasta,
dosen, pustakawan, seniman theater, dll. Dan sisi uniknya yang membuat gw agak
bertanya-tanya adalah sang narator film itu... Tora Sudiro. Di film ini sendiri
gw banyak mendengar mengenai kegagalan reformasi itu sendiri.
Setelah selesai pemutaran film, ada sesi tanya jawab dengan
(harusnya) Bang Tino. Sayangnya, malam itu Bang Tino berhalangan untuk hadir
dan diwakilkan oleh sang editor film tersebut. Pada sesi tanya jawab itulah gw
mendapatkan kesempatan untuk mengangkat tangan gw saat sang editor menanyakan
mengenai siapa yang memiliki blog. Inilah awal mula dari semuanya.
Berawal dari nonton di KontraS, diminta untuk membantu
mengingatkan Rakyat Indonesia dengan menuliskan ini di blog, nyari contact Bang
Tino, dan akhirnya berhasil ketemu dengan Bang Tino.
Awalnya, gw berkomunikasi dengan beliau melalui twitternya
@jamedsy . Berlanjut ke DM Twitter. Sebelum pertemuan itu sendiri, gw
sempet menanyakan beberapa hal kepada beliau melalui DM Twitter. Kurang lebih
seperti berikut ini :
AngsaBawel (AB) : Halo
Bang Tino, aku bermaksud untuk menulis mengenai "Setelah 15 Tahun di blog
aku. Aku mau menanyakan beberapa hal #1 Kenapa memilih untuk menayangkan di
QFF?
Bang Tino (BT) :
Mereka juga punya kategori yang
terkait dengan HAM. Film ini sendiri isinya mengingat sejarah masa lampau. Mau
normal, waria, gay, lesbian, womanizer, manizer, boleh nonton. Bermanfaat.
AB : Oh ok. #2 Apa
sebenarnya pesan yang ingin disampaikan Bang Tino dengan Film ini?
BT : Pesannya sangat sederhana, mengingatkan
kembali masyarakat tentang reformasi 1998, kilas balik sekaligus evaluasi
kondisi saat ini.
AB : #3 Kenapa pemilihan
kilas balik itu diambil setelah 15 tahun, Bang? Apa ada sesuatu yang mirip antara
sekarang dengan 98? Atau hanya sekedar judul?
BT : Berawal dari keinginan rilis ulang Film
"Student Movement in Indonesia" (edar 2002), setelah wawancara
beberapa orang terus kepikiran "kenapa gak buat baru aja?" kebetulan
pas 15 tahun. Waktu 10 tahun dulu kan ada yang dibuat Prima Rusdi dkk. Tapi
memang terkait dengan Peringatan 15 Tahun Reformasi 1998.
AB : Lalu, #4 Apakah
yang menjadi latar belakang Bang Tino membuat Film-film bertemakan Tragedi 98
seperti "Student Movement" dan "Setelah 15 Tahun"?
BT : Selama 32 tahun, saya mendengar claim-claim
kepahlawanan 1945 dan 1966. Kenapa tidak merekam peristiwa bersejarah seperti
1998? Kenapa tidak membuat Film Dokumenter sejarah yang terjadi didepan mata?
Paling tidak ada sesuatu yang bisa ditonton generasi yang akan datang.
AB : #5 Sepengetahuan
Bang Tino sendiri, kira-kira apa efek yang didapat dari film tersebut?
BT : Setahu saya film "Student Movement
in Indonesia", cukup banyak di apresiasi di kalangan akademik, termasuk
Universitas di luar negeri yang punya jurusan Asia
Tenggara atau Indonesia. Mudah-mudahan "Setelah 15 Tahun" juga akan mendapatkan
apresiasi yang sama atau mendekati.
AB : #6 Saya pribadi
kebetulan sudah menonton Filmnya (Setelah 15 Tahun), Bang. Selama pembuatan
film itu, apakah Bang Tino mendapat tekanan dari pihak-pihak yang mungkin
terlibat?
BT : Jujur, mungkin terdengar aneh, Tidak ada.
Pernah ada yang datang bertanya, saya jelaskan apa adanya saja. Itu malah
sebelum film diedit. Bahkan pengurusan STLS di LSF selesai dalam waktu 1 hari.
AB : Kapan-kapan boleh
gak aku ketemu Bang Tino untuk tanya-tanya langsung? #7 Latar belakang Bang
Tino memilih orang-orang yang di wawancarai di film tersebut apa?
BT : Saya akan ada di PPHUI Selasa 29 Okt depan,
acara nonton Tjoet Nja' Dhien. Pemilihan responden berangkat dari latar
belakang mereka sebagai mantan aktivis 1998. Khusus untuk Makassar, aktivis
mahasiswa UnHas saat ini.
Itulah akhir dari perbincangan gw di Twitter dengan sang pemeran
banci dalam film Quickie Express itu.
Sempet pengen ketemu langsung untuk menanyakan mengenai beberapa hal pada hari
Selasa, 29 Oktober 2013 di PPHUI. Akan tetapi, karena hujan dan banyaknya kendala
terkait dengan diri gw sendiri, akhirnya batal. Malam itu juga gw mencari contact person Bang Tino yang akhirnya
berhasil gw dapatkan dari internet. Dari situ gw mulai berkomunikasi dengan
beliau melalui whatsapp. Lagi-lagi
ada rencana pertemuan tanggal 30, tapi sayangnya kembali batal karena
kemaleman. Sebenernya saat batal itu gw sempet hopeless. Tapi ternyata
beruntungnya gw yang akhirnya bisa juga bertemu dengan Bang Tino pada tanggal
31 Oktober.
Sebenarnya, gw menyiapkan beberapa hal untuk gw tanya. Tapi,
karena keasikan ngobrol akhirnya gak semua pertanyaan itu berhasil gw tanyakan.
Beginilah kurang lebih hasil wawancara gw dengan Bang Tino malam itu:
AB : Dalam film tersebut, ada sisi menonjol
mengenai kegagalan dari aksi mahasiswa dalam aksinya pada tahun 1998. Menurut
Bang Tino, seperti apakah kegagalan itu?
BT : Kegagalan mahasiswa
pada tahun 1998 adalah para mahasiswa berhasil menurunkan presiden Soeharto,
tetapi antek-anteknya masih tersisa di Pemerintahan.
AB : Bagaimana Bang Tino bisa mendapatkan video footage yang terkait dengan
tragedi 1998?
BT : Kebanyakkan saya
punya sendiri, saya kan di jalanan tahun 1998.
AB : Oh jadi memang itu shoot sendiri pas kejadian?
BT : Kalau pernah lihat
"Student Movement", 80% itu
saya sendiri.
AB : Jadi dokumentasi pribadi semua, bang?
BT : Gak semua. Kalau
kaya Gejayan ada teman yang punya yang selama 15 tahun gak
pernah dilihat orang. Karena ketika kejadian masih Orde Baru dan gak bisa
tayang.
AB : Banyak kendala juga ya kalau mau
ditayangin juga?
BT : Waktu jaman Orde Baru
mah dilarang. Malah footage yang dibuat
TVRI hilang. TVRI Jogja kan juga bikin, hilang. Hilang aja. Dengan besar hati
kita nyatakan hilang. Hampir semua footage
98 sudah hilang dari stasiun TV. Karena secara gambar sesuatu yang gakk bisa
ditolak, bahwa pada waktu itu TNI yaaa.. hajar rakyat sendiri, gitu aja. Rakyat
kecil ya.
AB : Itu aku sempet lihat di film yang saat
para TNI nari-nari. Itu mereka beneran nari-nari setelah itu gitu..?
BT : Iya, bener. Ya iya.
Artinya belum pernah lihat "Student
Movement". Karena waktu 98, semua gambar yang di film Student Movement sudah muncul sebelumnya
di media, kecuali yang itu. Ketika itu masuk di "Setelah 15 Tahun" ya
itu yang gak dipotong karena mereka gak sadar.
AB : Aku agak penasaran, Bang. Apa ada alasan
tersendiri yang membuat Bang Tino memilih Tora Sudiro untuk menjadi Narator
dalam film ini..?
BT : Orang gak akan
nyangka aja bahwa akan ada dia. Karena orang kan nganggep dia kan becanda,
komedi. Justru itu kan bagian dari, kalau kamu lihat, kemajemukan orang
Indonesia. Ada wartawan, ada rohanian, ada macam-macam. Pembawa acaranya
komedian, tapi siapa bilang kayak pertanyaan kamu, “kenapa diputar di
Qfestival?”, emangnya seorang lesbian, seorang gay atau seorang waria gak boleh
tau kalau negara ini hancur gara-gara birokrasi? Gak dong. Sama aja seorang
komedian pasti punya pendapat juga. Dan juga untuk lebih cair ya. Kalau kita
bawa yang lebih serius, lebih ancur lagi itu film, lebih dimusuhin. Dengan
adanya Tora, kan jadi kesannya lebih... agak santai.
AB : Bener... Bener... Biar gak kaku juga.
Kalau mengenai pemilihan responden.. Apakah mereka mayoritas terlibat pada
Tragedi 1998?
BT : Semuanya, kecuali
yang anak muda, yang lainnya semua mantan aktivis dan hardcore, Cuma kamu gak tau aja. Mereka di belakang semua. Dan
kalau yang nonton adalah aktivis, itu ngantuk dia. Karena yang nongol itu hardcore semua. Dulunya itu musuh
republik. Musuh no.1’nya Soeharto semua. Jadi itu gak bohong itu yang bilang: “Gw tetap optimis, sama ketika optimis gw
jatohin Soeharto”. Itu bener itu. Mereka gila. Mereka orang-orang yang
dikejar-kejar semua. Sampai 2003, yang giginya berantakan tuh, masih
dikejar-kejar.
AB : Bang, apakah saat ini masih ada sisa
rezim Soeharto?
BT : Masih. Ini Orde
Baru. Yang hilang Cuma Soeharto doang kok. Yang aman justru mereka dengan
dijejelin ini itu, yang korupsi di zaman Soeharto sudah aman, karena dikasih
koruptor baru semua.
AB : Film ini sendiri mendapat banyak respon
negatif? Tapi, ada yang pro juga kan?
BT : Terutama sih
banyak yang pada bilang, kenapa gw berpihak. Tapi kalau buat dokumenter, gw
berpihak. Justru diluar dugaan, reaksinya gak sekeras “Student Movement”. Kalau “Student
Movement” itu jelas bahwa mereka marah. Kalau yang ini, mereka lebih
objektif, gak jadi emosional. Tapi yang mereka gak sangka itu, sebetulnya
mereka udah tau semua. Nah di film ini bukan sesuatu yang baru. Cuma diingatkan
saja.
AB : Oh iya, denger-denger, Bang Tino mencari
orang yang kepalanya di tendang di awal film ya, Bang ?
BT : Udah dicari, tapi
belum ketemu. Gak ada yang mau buka.
AB : Apa sih yang membuat Bang Tino tertarik
untuk membuat film yang bertemakan pergerakan mahasiswa kaya “Student Movement” dan “Setelah 15 Tahun”
?
BT : Saya gak tertarik.
Saya gelisah. Gelisah kenapa gak ada yang buat. Itu aja. Gak enak juga kali
udah ngabisin duit sendiri, dimusuhin lagi. Dalam prakteknya kenyataannya begitu.
Duit, duit saya. Begitu terbit dimusuhin. Jadi gak ada enak-enaknya.
AB : Tapi ada kepuasan batin aja ya, Bang ?
BT : Puas juga gak.
Cuma bisa tidur gak gelisah aja.
AB : Apa ada film atau hal yang menginspirasi
Bang Tino untuk membuat film ini ?
BT : Gak ada. Cuma
gara-gara saya gedek aja 32 tahun dibohongin. Tiap kali ketemu orang “Gw
angkatan 45.. Gw angkatan 45..”. Tai kucing. Emang kalo gw hidup jaman lo, gw
kalah sama lo.
AB : Hahahahahaha. Lalu apa bener ada planning untuk membuat lanjutan dari
“Setelah 15 Tahun” ?
BT : “Setelah 25
Tahun”. Tapi mungkin gw udah mati. Gw udah umumin, karena yang denger gw
ngomong itu semua masih muda. Gw bilang, kalau gw mati, lo yang gantiin gw.
Karena film ini kan yang buat dari generasi saya sampai generasi 20’an kaya
Avo. Hehehe. “Pesta Perak Reformasi”.
AB : Karena menonton film ini, aku jadi agak
bertanya-tanya. Apakah Bang Tino sendiri itu seorang aktivis atau bukan?
BT : Di kampus, gw gak
pernah jadi aktivis. Paling benci gw sama aktivis. Ngerepotin orang. Sampai
sekarang juga gw bukan aktivis. Gw gak pernah jadi aktivis, tapi gw adalah
pencaci maki yang baik.
Setelah menyelesaikan kalimat itu, Bang Tino pun pamit untuk
pulang karena waktu juga udah menunjukkan Pk. 22.00. Sebelum pulang, pastinya
gw minta ijin photo berdua dulu dengan beliau. Hehehehehehe.
Bagi gw pribadi, Film “Setelah 15 Tahun” ini recommended banget untuk ditonton. Karena pentingnya kita untuk
melihat usaha keras bagaimana para mahasiswa di seluruh Indonesia, bersatu padu
menggabungkan kekuatannya untuk menjatuhkan musuh
bersama, yaitu Soeharto. Hanya saja, kita juga harus melihat bahwa kenyataannya
saat itu terjadi kegagalan karena para mahasiswa tidak menyiapkan backup plan untuk setelah lengsernya
Soeharto. Dan saat ini, setelah 15 tahun reformasi, Indonesia masih saja tetap
sama seperti dulu. Ada beberapa perubahan yang terjadi, hanya sayangnya, ya
masih juga banyak yang tidak berubah malah yang ada semakin parah. Ironisnya
pada saat ini banyak juga demo-demo yang terjadi karena provokasi dan dengan
dibayar. Bang Tino juga sempat mengungkapkan : “Saya tidak tahu nasib film ini
tahun depan atau nasib saya sendiri tahun depan, kalau para pembunuh itu yang menang”. Ya mungkin
kali ini dengan memuat tentang ini di blog kesayangan gw ini pun, gw juga gak
tau nasib gw ke depannya. Tapi, gw pun MENOLAK LUPA!!! segala
sesuatu yang pernah terjadi dalam pemerintahan Indonesia yang sampai dengan
saat ini belum terselesaikan bahkan seperti dilupakan begitu saja. MENOLAK
LUPA!!! Komitmen reformasi 15 tahun yang lalu. Jangan sampai generasi yang akan datang melupakan semangat reformasi
yang telah ada sejak jaman dulu.
Benar gagalkah Generasi
Reformasi 98 di 68 tahun kemerdekaan Indonesia ini? Benar gagalkah Generasi
Reformasi 98 di 7 hari menjelang Peringatan 15 Tahun Tragedi Semanggi I ? Meski Indonesia
terkesan dalam kukungan kegelapan, secercah cahaya tetaplah bersinar. INDONESIA
NAN RAYA!
Terima kasih untuk Karyamu
Bang Tino yang mengingatkan mengenai segala sesuatu yang mulai terlupakan oleh
Generasi Muda Indonesia.
Referensi :




0 komentar:
Posting Komentar