Senin, 07 Oktober 2013

#Autismaze

Dear my Blogger Friends..

Minggu lalu, tepatnya Minggu, 29 September 2013, aku pergi ke acara #Autismaze yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisma Indonesia di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan. Aku datang kesana, karena aku ingin tau lebih banyak mengenai apa yang dirasakan oleh penderita autis dan karena aku pengen liat labirin dengan ukuran 255m2.



Aku sampai disana kurang lebih pukul 13.00 wib. Pada saat ditempat acaranya, mataku memang langsung tertuju pada labirin yang ada di bagian belakang stage. Pengen buru-buru masuk ke situ. Tapi, tiba-tiba mataku teralih dengan benda-benda yang ditempelkan di dinding sekitar labirin dan dibelakan kursi audiens. Ada beberapa lukisan yang dipajang, ada prakarya-prakarya dan ada juga puisi. Aku gak bisa inget jelas apa isi puisinya, tapi yang pasti, aku merinding dan kagum saat baca puisi yang dipajang. Kata-katanya bener-bener menggambarkan apa yang dirasakan oleh sang pembuat puisi. Pada saat itu pula sedang ada seorang penderita autis yang sedang menyanyikan lagu “Malaikat juga tahu” diatas stage.

Gak lama setelah itu, aku akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam labirin. Aku bener-bener penasaran apa yang ada didalam labirin itu. Saat aku masuk, di dinding labirin itu tertulis apa-apa saja yang dirasakan oleh beberapa penderita autis dan itu membuatku merinding membacanya. Dan aku membaca sedikit penjelasan mengenai autis yang bertuliskan :

“Manusia pada umumnya memiliki ambang batas sensorik yang seimbang dalam panca inderanya. Sehingga mereka bisa mengontrol emosi dan mengekspresikannya dengan baik.
Namun ambang batas sensorik pada panca indera saya tidak seimbang. Saya bisa memiliki ambang batas sensorik yang terlalu tinggi (hipo-sensitif) atau ambang batas sensorik yang terlalu rendah (hiper-sensitif).
Inilah yang memicu semua tingkah laku saya dan mungkin bisa membuat anda bingung. Semua itu karena banyak hal yang tidak bisa saya rasakan seperti umumnya anda.”

Beberapa tulisan, membuatku cukup terkejut membacanya. Seperti adanya tulisan “Sentuhan lembut bisa terasa menyakitkan”. Disitu aku berpikir, “sentuhan yang lembut aja bisa membuat ia kesakitan, lalu bagaimana jika ada yang berlaku kasar terhadapnya..??”.

Ada juga tulisan yang mengatakan bahwa ia adalah seseorang yang sangat sensitif terhadap rasa. Baginya 1 butir cabai terasa bagaikan 100 butir cabai. Itulah yang dirasakan penderita autis hipo-sensitif. Sementara bagi penderita autis hiper-sensitif, dituliskan bahwa 100 butir cabai terasa bagaikan hanya 1 butir cabai. Ada yang hipo-sensitif terhadap cahaya yang terang dan melihat cahaya bola lampu matanya terasa bagaikan ditusuk oleh ribuan jarum. Ada juga yang sensitif terhadap suara detik jam dan banyak yang lainnya.

Selama ini aku gak pernah tau, apa aja yang dirasakan oleh penderita-penderita autis. Dan pada saat baca tulisan-tulisan yang ada didalam labirin itu, paling gak aku jadi lebih tau, bahwa tidak mudah menjadi mereka. Merinding, sedih, terharu, dan gak pernah nyangka tentang apapun yang mereka rasakan.

Didalam labirin itu untuk beberapa menit, udah membuatku merubah pandanganku mengenai para penderita autis. Mereka “Special”. Gak pernah bisa aku bayangkan apa rasanya kalo aku harus bertukar tempat dengan mereka dan merasakan bagaimana rasanya menjadi mereka. Apa yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka pasti bukanlah sesuatu yang gampang.

Sebelum aku masuk ke labirin, aku sempat melihat tulisan :


Dan yah dengan tau apa yang beberapa diantara mereka rasakan dan melihat lukisan-lukisan, prakarya-prakarya dan juga puisi yang dipajang, itu bener-bener membuktikan bahwa apapun yang mereka rasakan bukanlah sebuah halangan untuk mereka bisa berkarya.

Di pintu keluar labirin tersebut, terlihat banyak tulisan yang berisi support dan pesan kesan dari orang-orang yang berkunjung dan masuk ke dalam labirin. Awalnya aku bingung mau menulis sesuatu atau gak dan kalopun nulis, mau nulis apa. Dan akhirnya aku tulis..




Aku adalah seorang penderita Bipolar Disorder. Dan bagi aku hidup aku itu udah cukup berat dengan mood swing extreme yang ngebuat aku jadi orang yang suka sensitive. Dan dengan datang ke acara #Autismaze aku jadi bisa berpikir, bahwa apa yang aku rasakan itu belum tentu sesulit apa yang dirasakan oleh para penderita autis.

Teman-teman yang suka ngeledek atau becandaan dengan temennya menggunakan kata “Autis” tolong kalo bisa di stop yah. Karena autis itu bukan bahan becandaan. Dan jangan pernah membully orang-orang yang gak autis, terlebih yang autis. Karena kalian gak tau apa yang dirasakan oleh para penderita autis.

Terima kasih kepada Yayasan Autisma Indonesia yang telah mengadakan acara #Autismaze sehingga aku jadi bisa lebih tau apa yang dirasakan penderita autis dan terima kasih juga karena telah merubah pandangan yang salah mengenai penderita autis.

Ini satu pesanku untuk Para Penderita Autis....



Salam sayang,



2 komentar:

Anonim mengatakan...

alangkah nikmatnya jika kita bisa menerima apa adanya diri kita dan sangat istimewa jika lingkungan kita juga menerima kita apa adanya sekaligus memberikan support. salam kenal kak bella.....

Unknown mengatakan...

Pastinya.. :) akan tetapi, yang terpenting adalah kita harus menerima diri kita apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada. Dan memang sangat menyenangkan apabila kita pun diterima apa adanya oleh lingkungan sekitar kita. Tapi, jangan biarkan cemoohan orang membuat kita terjatuh. Salam kenal juga ya.. :)

Posting Komentar