Dear
my Blogger Friends..
Minggu
lalu, tepatnya Minggu, 29 September 2013, aku pergi ke acara #Autismaze yang
diselenggarakan oleh Yayasan Autisma Indonesia di Epicentrum Walk, Kuningan,
Jakarta Selatan. Aku datang kesana, karena aku ingin tau lebih banyak mengenai
apa yang dirasakan oleh penderita autis dan karena aku pengen liat labirin
dengan ukuran 255m2.
Aku
sampai disana kurang lebih pukul 13.00 wib. Pada saat ditempat acaranya, mataku
memang langsung tertuju pada labirin yang ada di bagian belakang stage. Pengen
buru-buru masuk ke situ. Tapi, tiba-tiba mataku teralih dengan benda-benda yang
ditempelkan di dinding sekitar labirin dan dibelakan kursi audiens. Ada
beberapa lukisan yang dipajang, ada prakarya-prakarya dan ada juga puisi. Aku
gak bisa inget jelas apa isi puisinya, tapi yang pasti, aku merinding dan kagum
saat baca puisi yang dipajang. Kata-katanya bener-bener menggambarkan apa yang
dirasakan oleh sang pembuat puisi. Pada saat itu pula sedang ada seorang
penderita autis yang sedang menyanyikan lagu “Malaikat juga tahu” diatas stage.
Gak
lama setelah itu, aku akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam labirin. Aku
bener-bener penasaran apa yang ada didalam labirin itu. Saat aku masuk, di
dinding labirin itu tertulis apa-apa saja yang dirasakan oleh beberapa penderita
autis dan itu membuatku merinding membacanya. Dan aku membaca sedikit
penjelasan mengenai autis yang bertuliskan :
“Manusia
pada umumnya memiliki ambang batas sensorik yang seimbang dalam panca
inderanya. Sehingga mereka bisa mengontrol emosi dan mengekspresikannya dengan
baik.
Namun
ambang batas sensorik pada panca indera saya tidak seimbang. Saya bisa memiliki
ambang batas sensorik yang terlalu tinggi (hipo-sensitif) atau ambang batas
sensorik yang terlalu rendah (hiper-sensitif).
Inilah
yang memicu semua tingkah laku saya dan mungkin bisa membuat anda bingung.
Semua itu karena banyak hal yang tidak bisa saya rasakan seperti umumnya anda.”
Beberapa
tulisan, membuatku cukup terkejut membacanya. Seperti adanya tulisan “Sentuhan
lembut bisa terasa menyakitkan”. Disitu aku berpikir, “sentuhan yang lembut aja
bisa membuat ia kesakitan, lalu bagaimana jika ada yang berlaku kasar
terhadapnya..??”.
Ada
juga tulisan yang mengatakan bahwa ia adalah seseorang yang sangat sensitif terhadap
rasa. Baginya 1 butir cabai terasa bagaikan 100 butir cabai. Itulah yang
dirasakan penderita autis hipo-sensitif. Sementara bagi penderita autis
hiper-sensitif, dituliskan bahwa 100 butir cabai terasa bagaikan hanya 1 butir
cabai. Ada yang hipo-sensitif terhadap cahaya yang terang dan melihat cahaya
bola lampu matanya terasa bagaikan ditusuk oleh ribuan jarum. Ada juga yang
sensitif terhadap suara detik jam dan banyak yang lainnya.
Selama
ini aku gak pernah tau, apa aja yang dirasakan oleh penderita-penderita autis.
Dan pada saat baca tulisan-tulisan yang ada didalam labirin itu, paling gak aku
jadi lebih tau, bahwa tidak mudah menjadi mereka. Merinding, sedih, terharu,
dan gak pernah nyangka tentang apapun yang mereka rasakan.
Didalam
labirin itu untuk beberapa menit, udah membuatku merubah pandanganku mengenai
para penderita autis. Mereka “Special”. Gak pernah bisa aku bayangkan apa
rasanya kalo aku harus bertukar tempat dengan mereka dan merasakan bagaimana
rasanya menjadi mereka. Apa yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka pasti
bukanlah sesuatu yang gampang.
Sebelum
aku masuk ke labirin, aku sempat melihat tulisan :
Dan
yah dengan tau apa yang beberapa diantara mereka rasakan dan melihat
lukisan-lukisan, prakarya-prakarya dan juga puisi yang dipajang, itu
bener-bener membuktikan bahwa apapun yang mereka rasakan bukanlah sebuah
halangan untuk mereka bisa berkarya.
Di
pintu keluar labirin tersebut, terlihat banyak tulisan yang berisi support dan
pesan kesan dari orang-orang yang berkunjung dan masuk ke dalam labirin.
Awalnya aku bingung mau menulis sesuatu atau gak dan kalopun nulis, mau nulis
apa. Dan akhirnya aku tulis..
Aku
adalah seorang penderita Bipolar Disorder. Dan bagi aku hidup aku itu udah
cukup berat dengan mood swing extreme yang ngebuat aku jadi orang yang suka
sensitive. Dan dengan datang ke acara #Autismaze aku jadi bisa berpikir, bahwa
apa yang aku rasakan itu belum tentu sesulit apa yang dirasakan oleh para
penderita autis.
Teman-teman
yang suka ngeledek atau becandaan dengan temennya menggunakan kata “Autis”
tolong kalo bisa di stop yah. Karena autis itu bukan bahan becandaan. Dan
jangan pernah membully orang-orang yang gak autis, terlebih yang autis. Karena
kalian gak tau apa yang dirasakan oleh para penderita autis.
Terima
kasih kepada Yayasan Autisma Indonesia yang telah mengadakan acara #Autismaze
sehingga aku jadi bisa lebih tau apa yang dirasakan penderita autis dan terima
kasih juga karena telah merubah pandangan yang salah mengenai penderita autis.
Ini
satu pesanku untuk Para Penderita Autis....
Salam sayang,




2 komentar:
alangkah nikmatnya jika kita bisa menerima apa adanya diri kita dan sangat istimewa jika lingkungan kita juga menerima kita apa adanya sekaligus memberikan support. salam kenal kak bella.....
Pastinya.. :) akan tetapi, yang terpenting adalah kita harus menerima diri kita apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada. Dan memang sangat menyenangkan apabila kita pun diterima apa adanya oleh lingkungan sekitar kita. Tapi, jangan biarkan cemoohan orang membuat kita terjatuh. Salam kenal juga ya.. :)
Posting Komentar